Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Makalah Tentang Hubungan Manusia dengan Agama - Pendidikan Agama Islam

Konten [Tampil]

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Manusia sebagai makhluk Allah yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya memiliki beberapa alasan. Di antaranya bahwa manusia itu beragama, artinya manusia mengabdi kepada Tuhan baik itu berupa Dewa, patung atau lainnya sesuai dengan pemahaman masing-masing.
Atas dasar ini, agar kita sebagai manusia mampu menyeimbangkan sifat-sifat kita sesuai dengan ketentuan agama, khususnya mahasiswa sangat penting memahami nilai-nilai kemanusian dan unsur-unsur agama sebagai pedoman hidupnya. Dari beberapa fakta yang ada, khususnya di negara-negara Barat, lebih menuhankan ilmu dan teknologi di atas segalanya sehingga mengakibatkan beberapa kehancuran, kekacauan dan masalah-masalah yang tidak kunjung selesai karena didasarkan pada nilai-nilai manusia yang negatif. Hal ini tentu bertentangan dengan tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri, yang memfokuskan pada arah kesatuan, ketenangan dan ketentraman.
Selain sebagai persyaratan mata kuliah Pengantar Studi Islam, kami merasa sangat penting memahami ruang lingkup sampai kepada pembahasan tentang hubungan manusia dengan agama yang lebih dalam berdasarkan beberapa sumber yang kami ambil,


B.    Rumusan Masalah
  1. Apa pengertian manusia?
  2. Bagaimana konsep manusia di dalam al-qur’an?
  3. Apa pengertian agama?
  4. Apa hubungan manusia dengan agama dalam kehidupan?
  5. Mengapa manusia harus beragama?

BAB II

PEMBAHASAN

A.     Pengertian Manusia 

Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk ang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain).
Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu.Manusia adalah mahluk yang luar biasa kompleks. Dinamika manusia tidak tinggal diam karena manusia sebagai dinamika selalu mengaktivisasikan dirinya.
         Manusia merupakan ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sebagai khalifah dibumi dengan dibekali akal pikiran untuk berkarya dimuka bumi. Manusia memiliki perbedaan baik secara biologis maupun rohani. Secara biologis umumnya manusia dibedakan secara fisik sedangkan secara rohani manusia dibedakan berdasarkan kepercayaannya atau agama yang dianutnya. Kehidupan manusia sendiri sangatlah komplek, begitu pula hubungan yang terjadi pada manusia sangatlah luas. Hubungan tersebut dapat terjadi antara manusia dengan manusia (habluminaNnas), manusia dengan alam (HabluminalAlam), manusia dengan makhluk hidup yang ada di alam, dan manusia dengan Sang Pencipta (HabluminaAllah). Setiap hubungan tersebut harus berjalan selaras dan seimbang. S elain itu  manusia juga diciptakan dengan sesempurna penciptaan, dengan sebaik-baik bentuk yang dimiliki.
 Hal ini diisyaratkan dalam  Surah At Tin Ayat 4 :

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Artinya : sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (Q.S At-tin:4)

B.    Konsep dan Pengertian Manusia dalam Al Quran

          
      Dalam Al Qur’an, ada beberapa konsep berkenaan dengan manusia. Dari ayat-ayat yang berkenaan dengan manusia, Al-Qur’an menyebut manusia dalam beberapa nama, berikut adalah penjelasannya :

a.         Konsep al-Basyr

Penelitian terhadap kata manusia yang disebut al-Qur’an dengan menggunakan kata basyar menyebutkan, bahwa yang dimaksud manusia basyar adalah anak keturunan Adam. Kata basyar disebutkan sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan hanya sekali dalam bentuk mutsanna.
Berdasarkan konsep basyr, manusia tidak jauh berbeda dengan makhluk biologis lainnya. Dengan demikian kehidupan manusia terikat kepada kaidah prinsip kehidupan biologis seperti berkembang biak. Sebagaimana halnya dengan makhluk biologis lain, seperti binatang. Mengenai proses dan fase perkembangan manusia sebagai makhluk biologis, ditegaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an, yaitu:

1)    Prenatal (sebelum lahir), proses penciptaan manusia berawal dari pembuahan (pembuahan sel dengan sperma) di dalam rahim, pembentukan fisik (QS. Al Mu’minuun: 12-14)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. 
  وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٖ مِّن طِينٖ ١٢    

Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
    ثُمَّ جَعَلۡنَٰهُ نُطۡفَةٗ فِي قَرَارٖ مَّكِينٖ ١٣

Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

    ثُمَّ خَلَقۡنَا ٱلنُّطۡفَةَ عَلَقَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡعَلَقَةَ مُضۡغَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡمُضۡغَةَ عِظَٰمٗا فَكَسَوۡنَا ٱلۡعِظَٰمَ لَحۡمٗا ثُمَّ أَنشَأۡنَٰهُ خَلۡقًا ءَاخَرَۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَٰلِقِينَ ١٤   


2)         Post natal (sesudah lahir) proses perkembangan dari bayi, remaja, dewasa dan usia lanjut sebagaimana dalam surat Al Mu’min: 67:

هُوَ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٖ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٖ ثُمَّ يُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلٗا ثُمَّ لِتَبۡلُغُوٓاْ أَشُدَّكُمۡ ثُمَّ لِتَكُونُواْ شُيُوخٗاۚ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ مِن قَبۡلُۖ وَلِتَبۡلُغُوٓاْ أَجَلٗا مُّسَمّٗى وَلَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ٦٧(

Artinya: Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes, air mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (Kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami (nya).

Secara sederhana, Quraish Shihab menyatakan bahwa manusia dinamai basyar karena kulitnya yang tampak jelas dan berbeda dengan kulit-kulit binatang. Dengan kata lain, kata basyar senantiasa mengacu pada manusia dari aspek lahiriahnya, mempunyai bentuk tubuh yang sama, makan dan minum dari bahan yang sama yang ada di dunia ini. Dan oleh pertambahan usianya, kondisi fisiknya akan menurun, menjadi tua, dan akhirnya ajalpun menjemputnya.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa manusia dalam konsep al-Basyr ini dapat berubah fisik, yaitu semakin tua fisiknya akan semakin lemah dan akhirnya meninggal dunia. Dan dalam konsep al-Basyr ini juga dapat tergambar tentang bagaimana seharusnya peran manusia sebagai makhluk biologis. Bagaimana dia berupaya untuk memenuhi kebutuhannya secara benar sesuai tuntunan Penciptanya. Yakni dalam memenuhi kebutuhan primer, sekunder dan tersier.

b.  Konsep Al-Insan

Kata insan bila dilihat asal kata al-nas, berarti melihat, mengetahui, dan minta izin.Atas dasar ini, kata tersebut mengandung petunjuk adanya kaitan substansial antara manusia dengan kemampuan penalarannya. Manusia dapat mengambil pelajaran dari hal-hal yang dilihatnya, dapat mengetahui apa yang benar dan apa yang salah, serta dapat meminta izin ketika akan menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. Berdasarkan pengertian ini, tampak bahwa manusia mampunyai potensi untuk dididik.

Potensi manusia menurut konsep al-Insan diarahkan pada upaya mendorong manusia untuk berkreasi dan berinovasi. Jelas sekali bahwa dari kreativitasnya, manusia dapat menghasilkan sejumlah kegiatan berupa pemikiran (ilmu pengetahuan), kesenian, ataupun benda-benda ciptaan.Kemudian melalui kemampuan berinovasi, manusia mampu merekayasa temuan-temuan baru dalam berbagai bidang .Dengan demikian manusia dapat menjadikan dirinya makhluk yang berbudaya dan berperadaban.

c.         Konsep Al-Nas

Dalam konsep an-naas pada umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial (Jalaluddin, 2003: 24). Tentunya sebagai makhluk sosial manusia harus mengutamakan keharmonisan bermasyarakat. Manusia harus hidup sosial artinya tidak boleh sendiri-sendiri.Karena manusia tidak bisa hidup sendiri.

Jika kita kembali ke asal mula terjadinya manusia yang bermula dari pasangan laki-laki dan wanita (Adam dan Hawa), dan berkembang menjadi masyarakat dengan kata lain adanya pengakuan terhadap spesis di dunia ini, menunjukkan bahwa manusia harus hidup bersaudara dan tidak boleh saling menjatuhkan. Secara sederhana, inilah sebenarnya fungsi manusia dalam konsep an-naas.

d.        Konsep Bani Adam

Adapun kata bani adam dan zurriyat Adam, yang berarti anak Adam atau keturunan Adam, digunakan untuk menyatakan manusia bila dilihat dari asal keturunannya. Dalam Al-Qur’an istilah bani adam disebutkan sebanyak 7 kali dalam 7 ayat. Penggunaan kata bani Adam menunjuk pada arti manusia secara umum. Dalam hal ini setidaknya ada tiga aspek yang dikaji, yaitu: Pertama, anjuran untuk berbudaya sesuai dengan ketentuan Allah, di antaranya adalah dengan berpakaian guna manutup auratnya. Kedua, mengingatkan pada keturunan Adam agar jangan terjerumus pada bujuk rayu setan yang mengajak kepada keingkaran.Ketiga, memanfaatkan semua yang ada di alam semesta dalam rangka ibadah dan mentauhidkanNya. Kesemuanya itu adalah merupakan anjuran sekaligus peringatan Allah dalam rangka memuliakan keturunan Adam dibanding makhluk-Nya yang lain. Lebih lanjut Jalaluddin mengatakan konsep Bani Adam dalam bentuk menyeluruh adalah mengacu kepada penghormatan kepada nilai-nilai kemanusian.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manusia dalam konsep Bani Adam, adalah sebuah usaha pemersatu (persatuan dan kesatuan) tidak ada perbedaan sesamanya, yang juga mengacu pada nilai penghormatan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian serta mengedepankan HAM. Karena yang membedakan hanyalah ketaqwaannya kepada Pencipta.


Sebagaimana yang diutarakan dalam QS. Al-Hujarat: 13):

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن ذَكَرٖ وَأُنثَىٰ وَجَعَلۡنَٰكُمۡ شُعُوبٗا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓاْۚ إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ ١٣

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

e.         Konsep Al-Ins

Kata al-Ins dalam Al-Qur’an disebutkan sebanyak 18 kali, masing-masing dalam 17 ayat dan 9 surat. Muhammad Al-Baqi dalam Jalaluddin (2003: 28) memaparkan al-Isn adalah homonim dari al-Jins dan al-Nufur. Lebih lanjut Quraish Shihab mengatakan bahwa dalam kaitannya dengan jin, maka manusia adalah makhluk yang kasab mata. Sedangkan jin adalah makhluk halus yang tidak tampak.
Sisi kemanusiaan pada manusia yang disebut dalam al-Qur’an dengan kata al-Ins dalam arti “tidak liar” atau “tidak biadab”, merupakan kesimpulan yang jelas bahwa manusia yang insia itu merupakan kebalikan dari jin yang menurut dalil aslinya bersifat metafisik yang identik dengan liar atau bebas
Dari pendapat di atas dapat dikatakan bahwa dalam konsep al-ins manusia selalu di posisikan sebagai lawan dari kata jin yang bebas. bersifat halus dan tidak biadab. Jin adalah makhluk bukan manusia yang hidup di alam “antah berantah” dan alam yang tak terinderakan.Sedangkan manusia jelas dan dapat menyesuaikan diri dengan realitas hidup dan lingkungan yang ada.

f.         Konsep Abdu Allah (Hamba Allah)

M. Quraish Shihab dalam Jalaluddin, mengatakan seluruh makhluk yang memiliki potensi berperasaan dan berkehendak adalah Abdu Allah dalam arti dimiliki Allah.Selain itu kata Abdu juga bermakna ibadah, sebagai pernyataan kerendahan diri.
Menurut M. Quraish memandang ibadah sebagai pengabdian kepada Allah baru dapat terwujud bila seseorang dapat memenuhi tiga hal, yaitu:
  1. Menyadari bahwa yang dimiliki termasuk dirinya adalah milik Allah dan berada di bawah kekuasaan Allah.
  2. Menjadikan segala bentuk sikap dan aktivitas selalu mengarah pada usaha untuk memenuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
  3. Dalam mngambil keputusan selalu mengaitkan dengan restu dan izin Allah.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam konsep Abd Allah, manusia merupakan hamba yang seyogyanya merendahkan diri kepada Allah.Yaitu dengan menta’ati segala aturan-aturan Allah.
Sehingga dalam berbagai konsep tersebut manusia merupakan mahluk hidup yang perlu diberikan suatu tempat sendiri karena dia merupakan mahluk hidup yang istimewa karena selain memiliki fisik, manusia memiliki akal, bersosialisasi, dan teratur. Manusia merupakan mahluk ciptaan Allah yang paling sempurna karena selain memiliki unsur fisik manusia memiliki akal yang membedakan dengan mahluk hidup lain.

A.    Pengertian Agama 

Agama adalah fitrah “ketentuan mutlak” bagi Manusia, tanpa agama manusi bukan berarti apa-apa, karena Agama memang ditujukan bagi manusia.

Pengertian Agama berasal dari bahasa sansekerta. Menurut pengertian umat hindu penganut mazhab siwa, kata agama yang dipergunakan dalam bahasa Indonesia sebagai istilah kerohanian, berasal dari kata Gam yang berarti pergi, Gam diberi awalan “A” yang berarti Agam berarti kebalikan dari pergi yang artinya datang, dan diberi akhiran “A” menjadi agama dengan arti kedatangan.

Agama sangatlah penting dalam kehidupan manusia. Demikian pentingnya agama dalam kehidupan manusia, sehingga diakui atau tidak sesungguhnya manusia sangatlah membutuhkan agama. Dan sangatlah dibutuhkannya agama oleh manusia, tidak saja di masa primitif dulu sewaktu ilmu pengetahuan belum berkembang, tetapi juga di zaman modern sekarang sewaktu ilmu dan teknologi telah sedemikian maju.

Dimensi Agama yang telah dikonsepsikan manusia adalah: adanya kepercayaan kepada Sang Pencipta, Adanya wahyu asli, dogma teologi, yakin tentang adanya supranatural, adanya proses evolusi.

Kata agama kadang-kadang digunakan bergantian dengan iman, sistem kepercayaan atau kadangkadang mengatur tugas, Namun, dalam kata-kata Émile Durkheim, agama lain Perihal dari keyakinan pribadi dalam bahwa itu adalah "sesuatu yang nyata sosial" Émile Durkheim juga mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem yang terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan Hal yang suci.  

Sebuah jajak pendapat global 2012 melaporkan bahwa 59% dari populasi dunia adalah beragama, dan 36% tidak beragama, diantaranya 13% ateis, dengan penurunan 9 persen pada keyakinan agama dari tahun 2005. Rata-rata, wanita lebih religius alih alih laki-laki . beberapa orang mengikuti beberapa agama atau beberapa prinsip-prinsip agama pada saat yang sama, terlepas dari apakah atau tidak prinsip-prinsip agama mereka mengikuti tradisional yang memungkinkan untuk terjadi unsur sinkretisme.

Pentingnya Agama Dalam Kehidupan Manusia
Berikut ini adalah sebagian dari bukti-bukti mengapa agama itu sangat penting dalam kehidupan manusia.
  1. Karena agama sumber moral 
  2. Karena agama merupakan petunjuk kebenaran.
  3. Karena agama merupakan sumber informasi tentang masalah metafisika.
  4. Karena agama memberikan bimbingan rohani bagi manusia, baik di kala suka maupun dikala duka
Peran yang paling pertama dan utama dalam hidup dan kehidupan manusia itu tidak lain adalah agama, dengan kata lain hanya dengan agamalah manusia hidup teratur dan terkendali juga sebagai penggerak atau pendorong untuk semangat  hidup yang lebih baik didunia ini dan untuk kembali ketempat yang lebih kekal yaitu diakhirat kelak. Keimanan dan ketaqwaan terhadap ajaran agama adalah merupakan kunci dan kendali segala pemuas kebutuhan manusia yang tidak ada batasnya, hal itu merupakan pengawasan interen yang ada pada diri kita sedang pengawasan ekterennya adalah norma atau aturan.

B.    Hubungan manusia dan agama

Dalam masyarakat sederhana banyak  peristiwa yang terjadi di sekitar manusia dan didalam diri manusia, tetapi tidak di pahami oleh mereka yang di kategorikan gaib. Banyak hal atau peristiwa gaib menurut pendapat mereka, mereka merasakan kehidupan penuh kegaiban. Menghadapi peristiwa gaib mereka merasa lemah tidak berdaya . mereka mencari perlindungan untuk menguatkan diri pada kekuatan yang mereka anggap menguasai alam gaib yaitu Dewa dan Tuhan. Hubungan mereka dengan para Dewa dan Tuhan menjadi akrab dalam segi kehidupan : sosial, ekonomi, kesenian dan sebagainya.

Masyarakat yang telah memahami peristiwa-peristiwa alam dan melalui ilmu pengetahuan, ketergantungan masyarakat pada kekuatan yang dianggap menguasai alam gaib menjadi berkurang bahkan di beberapa dunia menjadi hilang. Dalam beberapa peristiwa tersebut timbul beberapa teori menganai hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Peristiwa yang banyak mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan sosial adalah teori August Comte dalam bukunya yang masyhur : Coure de la Philosophie Positive (1842). August Comte menyebut tiga tahap perkembangan pemikiran manusia de lois des trois etat (tiga hukum perkembangan). Yang bersisi beberapa tahapan yaitu : (a) tahap teologik (b) tahap metafisik (c) tahap positif. Tahap pemikiran yang paling rendah ialah (a) tahap pemikiran teologik  yaitu tahap pemikiran manusia yang percaya kepada Tuhan, percaya kepada ajakan agama. Misalnya peristiwa bencana alam yaitu banjir dan gunung meletus. Untuk menghindari ketakutan iyu, manusia lalu melindungkan dirinya pada Tuhan Yang Maha Kuasa. (b) Tahap meta fisik yaitu tahap percaya pada kekuatan atau hal-hal non fisik, yang tidak kelihatan. Untuk keselamatan dirinya dalam tahapan ini manusia berusahamenjinakkan kekuatan - kekuatan batin dengan saji-sajian. Manusi telah mengetahui hukum hukum alam, telah mampu memanfaatkan bahkan menundukan alam untuk kepentingan manusia.Dari ajaran ini lahirlah filsfat positivme ( aliran filsafat yang beranggapan bahwa pengetahuan semata mata berdasarkan pengalaman dan ilmu yang pasti).
       
Agama sangat perlu bagi manusia terutama bagi orang yang berilmu, apapun disiplin ilmunya karenadengan agama ilmunya akan lebih bermakna. Dengan ilmu dan agama kehidupan manusia akan sempurna dan bahagia.Karena itu pula, dalam masyarakat modern pun agama tetap diperlukan manusia bahkan di tanah air kita ilmu dan teknologi ( akan) dipadukan menjadi satu dengan agama.

C.    Mengapa Manusia Butuh Beragama

Beragama berarti memiliki keyakinan religius. Sebuah keyakinan religius mempunyai titik sentral yang menentukan awal, akhir, dan proses dari sesuatu. Titik sentral itu adalah Tuhan. Tuhan itulah yang mengatur sistem dan hukum alam semesta. Dan keyakinan religius pada dasarnya adalah kecenderungan fitrah manusia, ia bukan hasil dari upaya. Kalau kecenderungan fitrah itu diikuti, ia akan menghasilkan ketenangan.

Tidak beragama berarti melawan kecenderungan fitrah itu, menciptakan pertentangan batin di dalam diri, sebuah pekerjaan yang tidak realistis, membangun dunia imajiner yang tidak mendapat dukungan dari sistem dan hukum alam semesta tadi. Hasil akhirnya adalah kegelisahan.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

 “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (QS. Thaha: 124)
Dalam Man and Universe, Murtadha Muthahhari menjelaskan “Mengapa Manusia Harus Beragama”.

Berikut ini kesimpulannya :

1.   Optimisme

Pertanyaan-pertanyaan yang sering mengusik manusia adalah: Apakah perbuatan baik itu ada gunanya? Apakah kebenaran dan kejujuran itu membantu untuk mencapai tujuan? Dan, apakah akhir dari penunaian tugas mulia hanyalah kesia-siaan?
Sistem alam semesta sudah dirancang oleh Tuhan untuk mendukung orang-orang yang berbuat kebenaran, keadilan, dan integritas. Meskipun, sebelumnya, mereka yang berbuat untuk kebenaran dan keadilan tersebut akan menghadapi ujian. Reaksi dunia tidak sama terhadap orang-orang yang berbuat baik dan terhadap orang-orang yang berbuat buruk.
Orang-orang yang beragama yakin bahwa perbuatan baik – cepat atau lambat – pasti akan mendapatkan ganjaran kebaikan pula untuk dirinya. Dan begitu pula perbuatan jahat akan mendapat ganjaran keburukan. Keyakinan akan hal ini membuat orang yang beragama selalu berusaha untuk menjadikan dirinya baik dan melakukan perbuatan yang baik pula. Ia tidak akan membiarkan dirinya terjebak pada kelemahan dan kemalasan. Karena orang yang beragama yakin bahwa keterbelakangan dirinya adalah akibat kelemahan dan kemalasannya untuk berusaha.
Hal itulah yang membuat orang yang beragama selalu punya pandangan yang optimis terhadap dunia, hatinya tercerahkan, bahwa segala usaha-usahanya akan mendapatkan hasil yang sebanding dengan apa yang ia usahakan.

لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَا كَسَبْتُمْ ۖ
“…baginya apa yang telah diusahakannya dan bagimu apa yang sudah kamu usahakan…” (QS. Al-Baqarah: 134)

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
”Barang siapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS.An-Nahl: 97)

2.   Mengurangi Kecemasan

Yang membuat manusia cemas adalah rasa ragu dan tak pasti. Dan kecemasan manusia yang utama adalah:
  • Ketakpastian masa depan, dan
  • Kecemasan akan kematian.
Banyak kepahitan dan penderitaan hidup dapat diatasi dengan upaya yang sunguh-sungguh. Namun, ada beberapa (atau mungkin banyak) kejadian dalam hidup yang tidak dapat dicegah dengan usaha sekeras apapun, ia hanya dapat diatasi dengan bantuan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Orang yang beragama yakin bahwa kewajiban manusia hanya berupaya untuk kebaikan semaksimal mungkin agar Tuhan ridha padanya. Ia tidak berkuasa atas hasil dari apa yang telah dilakukannya, hasil dari upaya itu Tuhan-lah yang menentukan. Dan dia percaya bahwa Tuhan selalu punya “skenario” yang lebih baik terhadap dirinya, dan Tuhan tidak akan pernah memberikan hal buruk terhadap segala hal baik yang telah dia upayakan. Inilah yang dalam bahasa agama disebut sebagai Tawakkal.


فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ ۖ بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ ۖ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لَأُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأُدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ

”Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (QS. Ali Imran : 195)

Dan soal kematian, bagi orang yang beragama kematian bukanlah berarti kehancuran total.“Kematian berarti meninggalkan “dunia kerja” menuju ke “dunia hasil”, peralihan dari dunia fana yang kecil ini ke alam abadi yang agung. Karena itu, orang yang beragama menyikapi rasa takut matinya dengan menyibukkan diri dengan amal saleh.” kata Muthahhari.

3.   Kepuasan Mental

Ada dua jenis kenikmatan yang dirasakan manusia:
  1. Kenikmatan yang berkaitan dengan panca indera. Kenikmatan semacam ini terjadi karena kontak organ tubuh dengan objek atau materi tertentu. Misalnya, mata memperoleh kenikmatan dengan melihat, telinga melalui mendengar, lidah dengan merasakan, dan seterusnya. Inilah yang dinamakan kenikmatan material.
  2. Kenikmatan yang berkaitan dengan jiwa dan batiniah manusia. Kenikmatan serupa ini tidak berkaitan dengan organ tubuh, juga tidak dipengaruhi langsung oleh faktor material. Inilah yang disebut kenikmatan spiritual. “Kenikmatan spiritual lebih kuat dan lebih abadi ketimbang kenikmatan material. Setiap perbuatan yang dilakukan karena Allah Swt., merupakan perbuatan ibadah dan mendatangkan kenikmatan. Kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang yang tulus beribadah kepada Allah dengan ibadah mereka yang khusyuk adalah kenikmatan spiritual. Dengan kata lain, inilah yang disebut sebagai ‘Nikmatnya Iman’,” ujar Muthahhari.

4.   Memantapkan Hubungan Sosial

Manusia tidak bisa hidup sendiri, meskipun itu hanya untuk memenuhi kebutuhan dirinya pribadi. Agar kebutuhannya terpenuhi manusia membutuhkan orang lain, harus ada kerja sama, harus ada take and give.

Manusia tahu apa yang diinginkannya. Yang tidak jelas bagi manusia adalah apa tugasnya terhadap dunia.  Agama menjelaskan tentang kewajiban seorang manusia terhadap manusia lainnya. Agama  juga menjelaskan tentang peri kehidupan bermasyarakat yang baik
“Kehidupan sosial dapat dikatakan baik kalau semua individunya menghormati hukum dan hak masing-masing, memperlihatkan rasa bersahabat satu sama lain, dan menganggap suci keadilan. Dalam masyarakat yang sehat, setiap orang menghendaki untuk orang lain apa yang dikehendakinya dan tidak menghendaki untuk orang lain apa yang tidak dikehendakinya. Semua individunya saling percaya, dan rasa saling percaya ini didorong oleh kualitas spiritual mereka,”demikian Muthahhari.

BAB III

PENUTUP

A.    Simpulan

Allah menciptakan alam semesta ini, memiliki bentuk kerapihan, keserasian yang sangat mengagumkan dan saling berhubungan antar makhluk hidup yang satu dengan yang lainnya. Atas dasar sunatullah, penciptaan alam semesta khususnya bumi, sebagai tempat manusia dan makhluk hidup lainnya memiliki penghidupan. Terlebih Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, dengan artian bahwa semua penciptaan ditujukan untuk kemaslahatan kehidupan manusia itu sendiri. Hanya tinggal manusianya saja, apakah mampu mengelola kekayaan bumi untuk kemaslahatan bersama atau menjadikan sebab akibat suatu musibah hasil dari kerserakahan, ketidakpedulian manusia kepada lingkungan dan alam semesta ini.

Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna, memilki beberapa keunggulan dibandingkan makhluk lainnya. Di antaranya adalah manusia memiliki potensi berupa akal dan kemauan, manusia dikhususkan oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi, manusia memiliki akhlak yang bersumber dari akal pikiran dan kehendaknya yang menentukan.

Sebab manusia memiliki dua sisi, yaitu baik dan buruk. Maka agama sangat penting perannya untuk dijadikan pedoman dan pegangan hidup manusia. Agar manusia mengetahui batasan-batasan yang harus dikerjakan dan yang tidak boleh dikerjakan. Sehingga dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, agama mampu menjadi penyeimbang agar manusia menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan untuk kehancuran.

B.    Saran

Saran yang dapat kami berikan kepada teman-teman sekalian tentang makalah ini adalah semoga dengan materi yang di jelaskan dalam makalah ini dapat menambah sedikit ilmu pengetahuan, tidak hanya mengerti tetapi diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, serta saran yang diberikan kepada para pendengar mengenai isi makalah ini diharapkan kita sebagai manusia selalu ingat kedudukan kita di dunia yaitu sebagai kholifah yang patuh, tunduk dan taat kepada Allah SWT.




https://dokumen.tips/documents/pengertian-manusia-secara-bahasa-dan-istilah.html
https://sangpembedauniat.wordpress.com/2015/10/02/makalah-manusia-dan-agama-mata-kuliah-pengantar-studi-islam/
Ali, H. Mohammad Daud. 2004. Pendidikan Agama Islam.
Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Zaman, Ali Noer. 1994. Agama Untuk Manusia. Jakarta: Pustaka Pelajar